Jumat, 01 Juni 2012

Mahapatih Anuda Paksi

MALAM berdenyut. Di baratlaut, bulan sabit begitu indah, melengkung di bawah lonjongan kelabu. Mahapatih Anuda Paksi tidak sanggup menikmati kemegahan langit malam ini. Raut wajah pecah. Batin pecah. Kepala bagai diaduk tangantangan gaib.Semenjak Mahapatih mengendalikan sepenuhnya roda pemerintahan Wilwatikta, beragam masalah menyerbu dari berbagai arah tanpa putus, seolah istana sedang mengalami musim panen masalah.




Di hari dewan Saptaprabhu bersidang, memutuskan untuk sementara waktu menunda penobatan sang putra mahkota Batara Ring Kahuripan Dyah Samarawijaya, masalah itu muncul dalam bentuk sesosok penyair gila bernama Kumba Langking alias si wajah hitam.



Setelah Kumba Langking berhasil menjebol regol purawaktra, menggelempangkan segenap prajurit penjaga, Senopati Rantang dating dan tanpa kesulitan berhasil meringkus penyair gila yang siang itu berkoarkoar ingin bertemu dengan baginda prabu Sang Sinagara. Lantara bertingkah onar, tidak tahu bahwa istana sedang dipayungi sungkawa setelah wafatnya Sang Sinagara, maka penyair gila itu pun langsung dijebloskan ke dalam pakunjaran bawah tanah, berjejeran dengan bilik yang dihuni Sembuyung, pelaku utama penusukan Baginda Prabu Sang Sinagara.



Ternyata itu cuma taktik licik Kumba Langking. Sebuah siasat jahat yang berhasil mengecoh istana. Kumba Langking memiliki tujuan beras, meloloskan Sembuyung. Ia sengaja mengisruh di regol utama supaya dirangket dan dijebloskan ke dalam penjara. Ia ternyata sudah berhitung matang perihal kemungkinan dibawa ke penjara bawah tanah berbaur dengan Sembuyung.



Taktik licik itu terbukti setelah dua hari kemudian, Sembuyung lenyap tanpa jelas napak tilasnya!



Kumba Langking juga lenyap!



Istana geger. Istana kecolongan. Istana kebobolan. Segenap prajurit penjaga yang bertanggungjawab di malam pelolosan itu tak luput dari nasib sial, memertanggungjawabkan kelalaiannya dengan mendekam di penjara sepasaran lamanya.



Tentunya, kini Sembuyung dan Kumba Langking sedang berkeliaran di luar sana, bergabung dengan komplotan besarnya, komplotan rahasia yang diduha sedang berupaya menggoyang tatatentrem Wilwatikta.



Keterlaluan!



Rante Gumbala bersama orangorang Kampala juga membikin ulah dengan membakar pasar gede hingga setengah gosong, membikin rombongan Tiongkok tertahan di keraton Kahuripan, sangsi terhadap keamanan kotaraja.



Berentet kekisruhan di kotaraja, menjatuhkan martabat Wilwatikta di mata kekaisaran Tiongkok. Bahkan Patih Amancanegara di Paguhan dengan terang truwaca bersikap mbalela kepada istana.



Rongrongan itu kian terasa menyudutkan Mahapatih Anuda Paksi, saat beberapa senopati istana terlibat perseteruan pribadi. Ini terjadi diduga ada yang sedang berupaya mengadudomba para petinggi istana dari dalam. Ada gerakan yang mengalir dari dalam istana, gerakan terselubung, bagaikan musuh dalam selimut yang sulit diendus keberadaannya.



Setelah tewasnya Senopati Alupara di tangan Senopati Rantang —saat Senopati Alupara berselisih dengan senopati Ketimaha dan pada ujungnya tindakan senopati rantang melenyapkan senopati Alupara dapat dimaafkan— sore tadi sudah kembali muncul perseteruan memalukan antara Senopati Ketimaha dengan Senopati Mahisa Anogara di padang Watangan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar