MALAM berdenyut. Di baratlaut, bulan
sabit begitu indah, melengkung di bawah lonjongan kelabu. Mahapatih
Anuda Paksi tidak sanggup menikmati kemegahan langit malam ini. Raut wajah
pecah. Batin pecah. Kepala bagai diaduk tangantangan gaib.Semenjak Mahapatih mengendalikan sepenuhnya roda pemerintahan Wilwatikta, beragam
masalah menyerbu dari berbagai arah tanpa putus, seolah istana sedang
mengalami musim panen masalah.
Di hari dewan Saptaprabhu
bersidang, memutuskan untuk sementara waktu menunda penobatan
sang putra mahkota Batara Ring Kahuripan Dyah Samarawijaya, masalah itu muncul dalam bentuk sesosok penyair gila bernama Kumba Langking alias si wajah hitam.
Setelah Kumba Langking berhasil
menjebol regol purawaktra, menggelempangkan segenap prajurit penjaga, Senopati
Rantang dating dan tanpa kesulitan berhasil meringkus penyair gila yang siang
itu berkoarkoar ingin bertemu dengan baginda prabu Sang Sinagara. Lantara
bertingkah onar, tidak tahu bahwa istana sedang dipayungi sungkawa setelah
wafatnya Sang Sinagara, maka penyair gila itu pun langsung dijebloskan ke dalam
pakunjaran bawah tanah, berjejeran dengan bilik yang dihuni Sembuyung, pelaku
utama penusukan Baginda Prabu Sang Sinagara.
Ternyata itu cuma taktik licik
Kumba Langking. Sebuah siasat jahat yang berhasil mengecoh istana. Kumba
Langking memiliki tujuan beras, meloloskan Sembuyung. Ia sengaja mengisruh di
regol utama supaya dirangket dan dijebloskan ke dalam penjara. Ia ternyata
sudah berhitung matang perihal kemungkinan dibawa ke penjara bawah tanah berbaur
dengan Sembuyung.
Taktik licik itu terbukti setelah
dua hari kemudian, Sembuyung lenyap tanpa jelas napak tilasnya!
Kumba Langking juga lenyap!
Istana geger. Istana kecolongan.
Istana kebobolan. Segenap prajurit penjaga yang bertanggungjawab di malam
pelolosan itu tak luput dari nasib sial, memertanggungjawabkan kelalaiannya
dengan mendekam di penjara sepasaran lamanya.
Tentunya, kini Sembuyung dan
Kumba Langking sedang berkeliaran di luar sana, bergabung dengan komplotan
besarnya, komplotan rahasia yang diduha sedang berupaya menggoyang tatatentrem
Wilwatikta.
Keterlaluan!
Rante Gumbala bersama orangorang
Kampala juga membikin ulah dengan membakar pasar gede hingga setengah gosong,
membikin rombongan Tiongkok tertahan di keraton Kahuripan, sangsi terhadap keamanan kotaraja.
Berentet kekisruhan di kotaraja, menjatuhkan martabat Wilwatikta di mata kekaisaran Tiongkok. Bahkan Patih Amancanegara di
Paguhan dengan terang truwaca bersikap mbalela kepada istana.
Rongrongan itu kian terasa
menyudutkan Mahapatih Anuda Paksi, saat beberapa senopati istana terlibat
perseteruan pribadi. Ini terjadi diduga ada yang sedang berupaya mengadudomba
para petinggi istana dari dalam. Ada gerakan yang mengalir dari dalam istana,
gerakan terselubung, bagaikan musuh dalam selimut yang sulit diendus
keberadaannya.
Setelah tewasnya Senopati Alupara
di tangan Senopati Rantang —saat Senopati Alupara berselisih dengan senopati Ketimaha
dan pada ujungnya tindakan senopati rantang melenyapkan senopati Alupara dapat
dimaafkan— sore tadi sudah kembali muncul perseteruan memalukan antara Senopati
Ketimaha dengan Senopati Mahisa Anogara di padang Watangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar