KEGADUHAN menjeblag regol barat istananegara. Sembilan perwira berancangancang menggeropyok sosok berwajah tembaga.
Cintanya bercokol kukuh
bertumbuh bagai benih murni
di tanah terberkati
akarnya kencang menggali sunyi
mengisap saripati
daunnya binar menatap sinar
berkembang mengundang kumbang
berbuah pating gemandul
menggirangkan jiwajiwa masgul
Isi kepala Tumenggung Kawikaca bagai diaduk. Dadanya serasa ditumbuk kaki kuda. Jejari tangannya geregetan.
“Kalian menerima cinta tetapi enggan mengembangkannya. Bagaimana mau melimpahkannya?”
SRET!
SRING!
Kemarahan terhunus. Tumenggung Kawikaca belum juga mengangkat tanda. Bagaimana ini?
Cinta lumrah kedah diolah
Ditingkatkan martabatnya
Setingkat demi setingkat
Jangan sampai meluncur jatuh
Menjadi melata paling sengsara
“Prajurit! Tekuk pendalil gemblung ini! Sumpal mulut bocornya dengan senjata kalian!”
Saatnya pertunjukkan.
Dua tombak tercekal, disentak, dan dua prajurit pun melambung ke udara, menubruk tembok bata. Edan! Tapi serangan tumbuh lagi. Tapi, wush! Udara bergoyang. Empat prajurit melengkung terdorong jauh ke belakang. Ketika sisanya siap membabibuta, sosok berwajah tembaga menotol tanah. Kini sudah gagah nangkring di atap regol Purawaktra.
Pertunjukkan bagus.
Tumenggung Kawikaca kagum.
“Maaf, Kimanggung, aku kesusu. Jika berjodoh, tentulah bertemu lagi.”
* * *
Tidak ada komentar:
Posting Komentar