Jumat, 01 Juni 2012

Sabrang Anatar

KEGADUHAN menjeblag regol barat istananegara. Sembilan perwira berancangancang menggeropyok sosok berwajah tembaga.

Cintanya bercokol kukuh

bertumbuh bagai benih murni

di tanah terberkati

akarnya kencang menggali sunyi

mengisap saripati

daunnya binar menatap sinar

berkembang mengundang kumbang

berbuah pating gemandul

menggirangkan jiwajiwa masgul

Isi kepala Tumenggung Kawikaca bagai diaduk. Dadanya serasa ditumbuk kaki kuda. Jejari tangannya geregetan.

“Kalian menerima cinta tetapi enggan mengembangkannya. Bagaimana mau melimpahkannya?”

SRET!

SRING!

Kemarahan terhunus. Tumenggung Kawikaca belum juga mengangkat tanda. Bagaimana ini?




Cinta lumrah kedah diolah

Ditingkatkan martabatnya

Setingkat demi setingkat

Jangan sampai meluncur jatuh

Menjadi melata paling sengsara

“Prajurit! Tekuk pendalil gemblung ini! Sumpal mulut bocornya dengan senjata kalian!”

Saatnya pertunjukkan.

Dua tombak tercekal, disentak, dan dua prajurit pun melambung ke udara, menubruk tembok bata. Edan! Tapi serangan tumbuh lagi. Tapi, wush! Udara bergoyang. Empat prajurit melengkung terdorong jauh ke belakang. Ketika sisanya siap membabibuta, sosok berwajah tembaga menotol tanah. Kini sudah gagah nangkring di atap regol Purawaktra.

Pertunjukkan bagus.

Tumenggung Kawikaca kagum.

“Maaf, Kimanggung, aku kesusu. Jika berjodoh, tentulah bertemu lagi.”

*     *     *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar