KEGADUHAN menjeblag regol barat istananegara. Sembilan perwira berancangancang menggeropyok sosok berwajah tembaga.
Cintanya bercokol kukuh
bertumbuh bagai benih murni
di tanah terberkati
akarnya kencang menggali sunyi
mengisap saripati
daunnya binar menatap sinar
berkembang mengundang kumbang
berbuah pating gemandul
menggirangkan jiwajiwa masgul
Isi kepala Tumenggung Kawikaca bagai diaduk. Dadanya serasa ditumbuk kaki kuda. Jejari tangannya geregetan.
“Kalian menerima cinta tetapi enggan mengembangkannya. Bagaimana mau melimpahkannya?”
SRET!
SRING!
Kemarahan terhunus. Tumenggung Kawikaca belum juga mengangkat tanda. Bagaimana ini?